flexing

Mengenal Arti Flexing yang Ramai Disebut di Media Sosial, Apa Sih Dampaknya?

Beberapa waktu terakhir, fenomena flexing cukup ramai dibicarakan masyarakat. Hal ini seiring dengan munculnya istilah “sultan” atau crazy rich di media sosial. Terutama setelah para content creator ramai-ramai menjadikan ajang pamer kemewahan sebagai konten di media sosial mereka. Mulai dari menunjukkan barang branded dan rumah mewah, sampai pamer saldo rekening.

Sebenarnya, Apa Itu Flexing?

penghasilan tambahan
Ilustrasi pamer kemewahan. Source: Freepik.

Secara harfiah, flexing dalam bahasa Inggris berarti pamer. Pengertian lebih spesifik seperti dipaparkan dalam Cambridge Dictionary bahwa flexing berarti menunjukkan sesuatu kepemilikan atau pencapaian dengan cara yang dianggap orang lain kurang menyenangkan. Istilah ini juga sering dipakai dalam ilmu ekonomi, yaitu perilaku memamerkan kekayaan dengan tujuan tertentu. 

Promotion

Tujuan tersebut bisa bermacam-macam, seperti menunjukkan kredibilitas atas suatu kemampuan atau status sosial, menciptakan kesan bagi orang lain, sampai menjadikannya sebagai strategi marketing. Namun, sebelum bicara lebih jauh, kita cari tahu dulu yuk apa alasan sebenarnya orang-orang melakukan flexing?

Penyebab Orang Melakukan Flexing

membandingkan diri
Ilustrasi merasa insecure. Source: Freepik.

1. Merasa Insecure

Merasa insecure menjadi salah satu pemicu seseorang melakukan flexing. Hal ini karena orang tersebut merasa bahwa orang lain nggak menganggap keberadaan mereka penting. Sehingga, mereka akan mencoba membuktikan eksistensinya dengan berbagai cara. Tentunya ini nggak akan terjadi pada orang yang memang benar-benar hebat dan mampu. Langit tak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi, kan?

Baca Juga: Sering Merasa Insecure? Kenali Penyebab Dan 4 Cara Mengatasinya

2. Menarik Perhatian Lawan Jenis

Ibarat seekor merak yang memamerkan ekor indahnya untuk menarik perhatian lawan jenisnya, begitu juga dengan mereka yang hobi flexing. Menurut psikolog dan penulis Geoffrey Miller, semua perilaku konsumerisme itu ternyata berakar pada usaha seseorang untuk menarik perhatian lawan jenis atau orang yang disukai. Sehingga, mereka berusaha sebisa mungkin supaya keberadaannya disadari, dikenali, dan akhirnya diperhatikan. Yakni dengan berpenampilan maupun berperilaku mencolok.

nggak bahagia
Ilustrasi memiliki kepribadian narsistik. Source: Freepik.

3. Masalah Kepribadian

Kebiasaan flexing ternyata juga bisa dipengaruhi oleh masalah kepribadian, loh, Lessoners! Ada beberapa kepribadian yang bisa dikaitkan dengan perilaku ini, seperti histrionik dan narsistik. Histrionik adalah orang yang suka mencari perhatian, sementara narsistik adalah kecenderungan seseorang merasa dirinya hebat. Sehingga, mereka harus mendapat pengakuan dan diperlakukan selayaknya orang hebat.

4. Tekanan Sosial

Penyebab berikutnya dari perilaku flexing juga bisa dipicu oleh tekanan sosial. Adanya tuntutan gaya hidup tertentu di pergaulan maupun lingkungan di mana seseorang berada bisa menyebabkannya merasa harus melakukan itu. Karena kalau nggak, mereka akan merasa tertinggal karena nggak bisa keep-up dalam pergaulan tersebut ataupun karena adanya dorongan untuk berkompetisi dengan yang sesamanya.

Apa Dampak Flexing?

hybrid working
Ilustrasi memaksakan keadaan. Source: Freepik.

Lessoners, kalau kita memang orang yang hebat, orang di sekitar kita juga pasti akan mengakuinya, tanpa perlu berusaha terlalu keras untuk menunjukkannya. Sehingga, kita nggak perlu membuktikannya dengan berbagai macam cara, seperti flexing yang malahan akan membawa dampak buruk sebagai berikut.

1. Berpotensi Memaksa Keadaan 

Kebiasaan tampil dengan barang-barang mewah dan memiliki berbagai pencapaian membuat seseorang akan semakin ingin menunjukkan eksistensinya. Kalau suatu waktu mereka nggak bisa lagi memenuhi kebutuhan tersebut, maka hal ini bisa mengarah pada pemaksaan keadaan. Orang tersebut akan melakukan segala cara supaya tetap bisa flexing, sampai harus meminjam uang atau bahkan mengumbar pencapaian palsu.

Ilustrasi sulit mendapatkan teman. Source: Freepik.

2. Sulit Mendapatkan Teman 

Mungkin kamu menganggap kalau kekayaan dan pencapaian kamu bisa menarik perhatian orang untuk mau berteman. Nyatanya, nggak demikian, loh, Lessoners! Faktanya, seseorang yang sering pamer justru bisa kesulitan mendapatkan teman baru. Hal ini berdasarkan sebuah studi pada jurnal Social Psychological and Personality Science. Diungkapkan bahwa ternyata kebanyakan orang lebih suka berteman dengan orang yang memiliki penanda status netral. 

3. Mengganggu Kepribadian 

Sering melakukan flexing ternyata bisa berdampak juga terhadap kepribadian seseorang, loh! Hal ini diungkapkan oleh Tim Kasser, seorang psikolog di Knox College penulis buku The High Price of Materialism. Menurutnya, orang yang sering flexing bisa menjadi kurang empati, kurang prososial, dan lebih kompetitif. Selain itu, mereka cenderung nggak mendukung kelestarian lingkungan. Bahkan, cenderung mendukung keyakinan yang merugikan dan diskriminatif.

Total
0
Shares
Leave a Reply
Previous Post

3 Sosok Inspiratif Kartini Indonesia Masa Kini, Siapa Saja?

Next Post

6 Tips Menghadapi Pertanyaan Basa-Basi di Hari Lebaran

Related Posts
bisnis

5 Ide Bisnis Kekinian dengan Modal Kecil

Di era serba canggih seperti sekarang, sudah nggak ada lagi alasan ide bisnismu terhenti karena butuh modal besar. Pasalnya, banyak lho bisnis yang bisa kamu lakukan dengan modal kecil, atau bahkan tanpa modal sama sekali! Simak artikel ini untuk mendapatkan inspirasi bisnis kekinian yang bisa kamu tiru!
Read More
Total
0
Share