Sering Butuh Healing, Termasuk Strawberry Generation Kah Kamu?

Padatnya aktivitas, kompleksnya permasalahan hidup, serta ritme hidup yang terus berjalan nyaris tanpa jeda memicu stress pada banyak orang. Inilah yang selalu menjadi alasan bagi mereka untuk melakukan self-healing. Mulai dari membeli barang yang disukai hingga pergi ke tempat yang tenang, setiap orang punya cara mereka masing-masing.

Belakangan ini jagat maya diramaikan dengan konten mengenai self-healing yang menjadi tren di kalangan anak muda. Nggak sedikit netizen yang kemudian mengasosiasikan fenomena ini kepada kalangan yang disebut dengan istilah Strawberry Generation. Termasuk Prof. Rhenald Kasali, seorang Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Promotion

Dalam salah satu video YouTube, Prof. Rhenald Kasali mengatakan kalau ia merasa gemas dengan fenomena self-healing ini. Hal ini lantaran ia menemukan sebuah tulisan di media sosial dari seorang mahasiswa berusia 21 tahun. Menurutnya, generasi yang terlalu mudah membutuhkan self-healing adalah bagian dari Strawberry Generation.

Tapi stroberi kan cuma buah. Terus apa hubungannya dengan tren ini?

Baca Juga: 6 Cara Simpel Untuk Balikin Mood Saat Stress Melanda

Apa Itu Strawberry Generation?

strawberry generation
Ilustrasi strawberry generation yang mudah mengalami stress atau mengatakan butuh self-healing. Source: Freepik.

Istilah Strawberry Generation awalnya muncul di Taiwan. Orang Taiwan menganggap orang Taiwan yang lahir mulai dari tahun 1981 itu ‘lunak’ layaknya buah strawberry. Artinya mereka nggak mampu bertahan dari tekanan sosial dan nggak mau bekerja keras untuk mencapai apa yang diinginkan.

Kenapa harus buah strawberry? Ibarat strawberry yang tumbuh di rumah kaca dan terlindungi, serta dijual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan buah lainnya, orang-orang dari generasi ini dipersepsikan tumbuh dewasa dengan dilindungi secara overprotektif oleh orangtua mereka dan lingkungannya sudah makmur dari segi ekonomi.

Prof. Rhenald Kasali menambahkan bahwa sebenarnya penuh dengan gagasan kreatif tapi sayangnya mereka nggak kuat menghadapi tantangan, gampang menyerah dan tersinggung. Seperti strawberry yang tampak indah dan eksotis dari luar, tapi begitu dipijak atau ditekan akan mudah sekali hancur. Itulah mengapa mereka sangat mudah mengalami stress atau mengatakan butuh self-healing

Meski membenarkan bahwa kesehatan mental kaum muda sangat penting, tetapi Prof. Rhenald Kasali menyebutkan bahwa jangan sampai kondisi ini menjadi self-healing dan depresi bohongan. Hal ini senada dengan buku yang ditulisnya berjudul Strawberry Generation yang diterbitkan pada Februari 2018 lalu. 

Kenapa Bisa Muncul Strawberry Generation?

Bukan tanpa sebab Strawberry Generation bisa muncul. Mereka menjadi demikian karena dibesarkan dengan pola asuh yang jauh berbeda dari generasi orangtua mereka yang cenderung lebih keras. Namun, sebenarnya kita bisa memutus mata rantai tersebut, dengan mengubah pola asuh anak-anak generasi mendatang, supaya menjadi pribadi yang kuat.

Berikut hal yang memicu seorang anak bisa jadi Strawberry Generation:

baik
Ilustrasi strawberry generation yang tumbuh dewasa dengan dilindungi secara overprotektif oleh orangtua mereka dan lingkungannya sudah makmur dari segi ekonomi. Source: Freepik.

1. Memberikan Semua yang Mereka Inginkan

Prof. Rhenald Kasali mengatakan kalau kehidupan keluarga sekarang pada umumnya lebih sejahtera dibandingkan beberapa dekade lalu. Sehingga orangtua zaman sekarang mempunyai kecenderungan memberikan apa yang diminta oleh anaknya. Jadi, sang anak bakal sulit buat menerima penolakan. 

2. Mengganti Waktu dengan Uang

Dengan kesejahteraan dan kesibukannya, orangtua seringkali memberi kompensasi untuk waktu yang nggak bisa dihabiskan bersama anak dengan uang atau hadiah lainnya. Padahal seharusnya waktu nggak bisa dikompensasi dengan materi dan orangtua harus tetap menyempatkan waktu untuk anak-anaknya. 

3. Nggak Pernah Menghukum Anak

Orangtua perlu kritis terhadap perilaku anak. Sebab, orangtua adalah “sekolah” pertama mereka. Kalau orangtua nggak menghukum anak sebagai konsekuensi setelah berbuat salah, artinya orangtua memperbolehkan anak melakukan kesalahan tersebut, sampai akhirnya itu jadi kebiasaan sang anak.

4. Membantu Anak Melebihi Seharusnya

Sekilas kelihatannya ini baik, tapi orangtua yang selalu membantu anaknya secara berlebihan, bahkan buat menyelesaikan tugas paling kecil dan remeh, bisa menimbulkan efek yang buruk. Anak bakal terbiasa bergantung dengan orang lain dan kurang mampu menyelesaikan masalah sendiri.

5. Punya Ekspektasi yang Nggak Realistis

Anak adalah kebanggaan orangtua. Nggak heran kalau orangtua suka memanjakan anak, seperti dengan kata-kata pujian. Tapi, dengan begitu, anak-anak jadi punya standar yang nggak realistis, saat mereka sudah memasuki dunia nyata nantinya. Mereka jadi selalu ingin dimanja dan gampang merengek, karena orang tua biasa memanjakan seperti itu.

Healing Tetap Dibutuhkan

wanita karier rumah tangga
Ilustrasi self-healing melalui dengan cara simpel, seperti meditasi. Source: Freepik.

Seringkali seseorang mengeluh butuh healing lantaran merasa dirinya stress karena berbagai tekanan dalam kegiatan sehari-hari. Padahal terkadang stress dibutuhkan sebagai stimulus, lho! Sesekali kita butuh untuk merasa terkondisi, seperti harus segera supaya jadi lebih mau bergerak, mau belajar, dan mau bekerja dengan giat.

Rasanya mungkin memang kurang nyaman. Namun, selama kita masih bisa produktif, memiliki keinginan terhadap kebutuhan harian seperti makan, minum, dan tidur, maka masih boleh melakukan self-healing dengan berbagai panduan dari situs resmi di Internet. Kamu bisa mencari bagaimana caranya mengelola stress dan menerapkannya di kehidupanmu.

Meski begitu, cara seseorang mencerna situasi dan masalah, serta kemampuan adaptasi juga akan mempengaruhi apakah tekanan itu akan menjadi persoalan pada kesehatan mental atau tidak. Kalau stress membawa pada kondisi yang negatif, hingga akhirnya kesehatan mentalmu terganggu, tandanya kamu memang perlu healing agar jiwa dan raga bisa nyaman kembali.

Baca Juga: 4 Rekomendasi Film Untuk Self-Healing

Kalau kondisinya sudah self-healing tapi tetap tidak produktif seperti nggak nafsu makan atau nggak mau ketemu orang, maka tandanya kamu perlu mengakses layanan profesional.

Total
0
Shares
Leave a Reply
Previous Post
tokoh fiksi

Jatuh Cinta dengan Tokoh Fiksi, Apakah Normal? 

Next Post
over promise

Supaya Nggak Jadi Orang Yang Over Promise, Ini  5 Tips Menghindarinya

Related Posts
pensiun dini

Mau Pensiun Dini, Apa Saja 5 Hal Yang Harus Dipersiapkan?

Kebiasaan bekerja yang menguras begitu banyak tenaga membuat nggak sedikit orang berpikiran untuk pensiun dini. Namun, untuk melakukan langkah tersebut tentunya perlu ada rencana yang matang. Tujuannya adalah supaya kamu bisa hidup nyaman tanpa ada masalah di kemudian hari. Penasaran apa saja hal yang perlu diperhatikan?
Read More
Total
0
Share